BINTANG PENANTIAN

Di kala malam berkabut kerinduan, munculah sang bintang menanti datangnya sang bulan purnama yang kelak akan memancarkan cahayanya. Malam demi malam, waktu demi waktu dan kabutpun semakin menebal, bagaikan kepulan asap rokok yang semakin menggulung penuhi seluruh ruang. Suasana pun menjadi sunyi sepi dan gelap menemani sang bintang yang sedikit memancarkan cahayanya.

Hatinya semakin gundah penasaran, menamti datangnya sang belahan jiwa. Seakan memetik, memeluk dan merangkai kepingan-kepingan hati yang retak berserakan tersapu angin. Akankah dia mendapt satu keajaiban untuk merangkai kembali. Berjuta-juta kepingan kecil bahkan lebih bertebaran penuhi bumi.

Sang bintang sudah terlalu lama mengendapkan segala kepedihannya dan seakan putus asa menanti pancaran sinar terang darinya. Ia percaya pada keyakinannya bahwa suatu saat pasti akan datang sang rembulan memancarkan cahaya yang begitu terang menerangi celah-celah sekecil apapun.

Adalah sepenggal cerita yang paling Bibil ingat sampai sekarang. Cerita yang dulu hanya sekedar sebuah cerita belaka. Kini berubah menjadi sebuah kenyataan yang datang menghampirinya. Dimana rasa ingin bertemu dan menemukan pancaran cahaya yang mampu menerangi dan menjadi tambatan hatinya.

Dalam lamunannya Bibil terusik kembali akan cerita itu.Pada kurun waktu yang lama sang bintang senantiasa bersandar pada malam berkabut tebal nan dingin. Berharap semua segera berakhir. Dengan datangnya cahaya rembulan yang benar-benar datang dan dirinya. Harapan nan indah berbingkai galau memaksa dirinya terbang ke alam lamunan , berkhayal andaikan sang purnama kelak datang menghampiri, maka sang bintang berjanji untuk mengungkapkan ketulusannya yang hamper padam oleh keraguannya.

Diantara sadar dan tidak sang bintang mendapati sebuah pancaran cahaya yang bergerak lamban. Mengiring tenggelamnya semburat cahaya merah membara, kering dan membakar. Berganti cahaya lembut nan menyejukan. Namun, kelembutan itu tak kunjung datang menghampiri dirinya. Seakan hanya melambai menggoda. Enggan beranjak mendekat.

Sang bintangpun kembali dirundung berjuta pertanyaan.

Yang seakan semakin bergeming memekakkan telinga hatinya

Enggankah engkau bersanding bersahabat dengan ku ?

Harapan berkecamuk, berpadu dalam doa

Ya Tuhan, tolonglah aku yang serasa tiada berkaki. Aku ingin berjalan dan meraihnya.

Sang bintangpun berteriak lantang kepada sang rembulan

Mendekatlah padaku karena aku butuh kamu. Berikanlah cahaya yang mampu menghidupiku. Mampu memberiku sebuah arti tanpa harus ku maknai. Kau adalah penyuluhku yang bisa ku jadikan pilar dalam hatiku. Kau adalah hidup. Mencintaimu adalah mencintai hidup. Jangan kaku biarkan aku redam dalam bisingnya gendering cinta yang kau tabuh

Doa demi doa, teriakan harapan telah terucap tanpa secerca sinar ia dapatkan. Karena yang datang menyambut hanyalah sekelebat sinar bulan sabit yang terlihat dan terasa nanar.

Kepedihan silih berganti membenamkan dirinya pada keyakinan yang semakin lantang menyala. Bahwa suatu saat nanti akan ku temukan bukan sekedar sinar bulan sabit yang hanya menerangi sebagian gelapku di waktu malamku.

Dan aku tahu pasti akan hal itu.

Wuih….. tragis tanpa sadar Bibir berucap. Padahal hal itu sebenarnya sedang menimpa dirinya.

Tak terasa bening air mata mebitik pelan jatuh di atas HP yang tergenggam erat diatas pangkuannya. Menyandarkan dirinya dengan apa yang sedang terjadi. Kenyataan dirinya saat ini adalah sama. Bahwa dirinya juga belum menemukan sinar yang menjadi cahaya penerang lorong hatinya yang gelap.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s